Sejarah PRM Dahromo

PRM Dahromo adalah salah satu ranting tertua di kabupaten Bantul
Pengajian Kemis Legi Pleret

Takhayul, Bidah, Churafat (TBC) di Ujung Selatan Segoroyoso

Pada masa pemerintahan Kesultanan Mataram Islam pada tahun 1591-1670 M yang dipimpin Sultan Agung Hanyakrakusuma merupakan sebuah lembah lautan buatan. Laut buatan dalam bahasa Jawa disebut Segara yasan. Kemudian saat ini menjadi nama kalurahan Segoroyoso. Konon segara yasan sebagai tempat latihan bagi angkatan laut Mataram islam dalam persiapannya menyerang Batavia, Memang dipenuhi banyak mitos dan takhayul di sekitarnya. Takhayul, Bidah, dan Churofat (Khurafat) atau warga muhammadiyah menyebutnya TBC ini menjadi sangat kuat pada waktu itu. Tepatnya di ujung selatan Pleret, Dusun Dahromo. Dalam majalah Djawa yang terbit tahun 1940, dalam tulisan RM. Gandhajoewana halaman 213 – 217, tertulis bagaimana tradisi rebo wekasan dan mitos tentang pertemuan sang sultan agung dengan Nyi Roro kidul di bukit permoni (di barat dusun Dahromo) dengan peninggalan berupa Selo amben, payung, teken, tapak kuda Sembrani, dan gua siluman. Kabut TBC itu kian pekat bila kita melihat ke arah timur Dahromo, disitu terdapat makam Raden Datuk Kusumo yang diklaim wali keturunan Rasulullah, yang dikeramatkan dan sering diziarahi. Di selatan Dahromo juga terdapat gunung pasar setan yang tidak kalah diselimuti halimun kabut tebal TBC tentang titik pertemuan dan bertransaksi nya para makhluk halus.

Tokoh-tokoh kunci yang menjadi penggerak awal.

TBC yang membuat semakin resah warga menjadikan semangat para genarai pertama Mbah Amat Sidiq, Mbah Yusuf, Mbah Marjuki, Mbah Khawari, Mbah Khamim, Mbah Abdullah Mukhsin, Mbah Abdullah Rofie, dan Mbah Yusuf untuk menghapuskan TBC. Pada tanggal 01 Juli 1928M terbit SK Moehammadijah Hindia Timoer dan resmi berdiri Muhammadiyah pada saat itu dengan nama Groep Moehammadijah Dahromo Kotagede.
Perjuangan keras generasi pertama yang beberapa diantaranya mengaji langsung di Kauman Jogja dan komunikasi intensif Mbah Abdul Kanan dan kawan-kawan yang saat itu ikut bekerja membangun Musholla Muhammadiyah di ranting prenggan (sekarang di kompleks SD Muhammadiyah Kleco 1 dan 2) lahrilah Groep Moehammadijah Dahromo Kotagede. Bahkan sinarnya melalui kegigihan para da’i terutama Mbah Amat Sidiq juga menerangi wilayah sekitarnya seperti dusun Karet, Pungkuran, Suren, Kanoman dan Kedungpring. Tertulis indah juga nama-nama para da’i yang ikut membesarkan dakwah Muhammadiyah di dahromo (semoga Allah memberikan kebaikan kepada mereka) yaitu Mbah Musidi, Mbah Muryadi, Mbah Abdul Khamid, Mbah Mulyorejo, Mbah Sakir, Mbah Muksom, dan Mbah Munaji.

Jejak Peninggalan

Di lapangan amal usaha Alhamdulillah juga masih sangat jelas jejak-jejak peninggalan nya, 2 masjid dan 8 langgar musholla, SD Muhammadiyah Wonokromo 2, PAUD dan TK ABA Dahromo, TPA Al Hidayatul ulum, beberapa petak kebun dan sawah produktif, menjadi bukti nyata.

Sumber: